Kalam mutiara dari Syeikh Ibnu Atho'illah As-Sakandari yang ada dinukilkan di dalam kitabnya Al-Hikam : "...Tiada suatu nafas terlepas daripadamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku di atasmu..."
Alhamdulillah, setinggi-tinggi syukur dipanjatkan kehadrat Ilahi kerana hanya Dia sahaja yang tahu kepada siapa hidayah-Nya akan diberikan. Hati penuh kegembiraan melihat sahabat-sahabat ikhwah mengenakan pakaian yang tepat sepertimana yang digariskan dalam Islam ketika bersama-sama beriadah di Istad semalam. Semoga hidayah-Nya berterusan mencurah keatas diri ini dan seluruh warga Mansurah. Ameen...
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di di merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas kepada mereka bahawa Al-Quran adalah benar. Belumkah ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahawa Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan taip-tiap sesuatu?”
[Fussilat : 53]
“Dan Dia-lah Tuhan yang telah mengalirkan dua laut berdampingan, yang satu tawar lagi memuaskan dahaga, dan yang satu lagi masin lagi pahit; serta Ia menjadikan antara kedua-dua laut itu sempadan dan sekatan yang menyekat percampuran keduanya.”
[Al-Furqan : 53]
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV ‘Discovery’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau , seorang ahli oceanographer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba dia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau sempadan yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Dia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun dia tak berkunjung lagi untuk mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari dia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian dia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al-Quran tentang bertemunya dua lautan (Surah Ar-Rahman Ayat 19-20) yang sering dikaitkan dengan Terusan Suez. Ayat itu ertinya:
“Ia biarkan air dua laut (yang masin dan yang tawar) mengalir, sedang keduanya pula bertemu. Di antara keduanya ada penyekat yang memisahkannya, masing-masing tidak melampaui sempadannya.”
Kemudian dibacakan Surat Al-Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tidak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari Surat Ar-Rahman Ayat 22 yang bermaksud “Dari kedua laut itu, keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al-Quran ini mustahil disusun oleh Nabi Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman yang saat itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al-Quran memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan Sungai dalam Laut
Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air masin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.
Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.
Aku terpenjara..didalam sebuah
kamar ditemani kegelapan
Tidak kelihatan pancaran cahaya
untuk menerangi pandangan
Tiada kelihatan laluan untuk
melalui kebebasan
Aku menyesal..
Dahulu aku berusaha merentasi
perjalanan
Menjadi nafsu sebagai tunggangan
Sehingga aku tersesat di lembah
kegelapan
Aku tersiksa..
Terpenjara kerana kemaksiatan
Menjadikannya santapan seharian
Sehingga aku tidak bisa lagi keluar dari penderitaan
Mampukah aku keluar dari
kegelapan
Demi mencari sinaran cahaya
Untuk aku jadikan pedoman
Agar aku tidak sesat selamanya
Mampukan aku keluar dari penjara
kemaksiatan
Demi mengutip secebis kebaikan
Untuk aku jadikan tebusan
Agar terbit rasa kehambaan
Sungguh..aku tidak mampu
Aku terlalu jauh tersesat di
dalam kegelapan ini
Sungguh sukar aku mencari
petunjuk
Sehingga tidak kelihatan lagi
jalan keluar
Dimanakah aku?? Dimanakah cahaya
untuk menerangi kegelisahanku
Sungguh.. aku tidak mampu
Kemaksiatanku memenjara diriku
sendiri
Aku tersiksa hidup didalam
penjara ini
Namun aku sendiri yang
membinanya
Sehingga ia merantai diri ku
sendiri
Aku tidak mampu menahanya lagi
Keluarkanlah aku…
Keluarkanlah aku dari kegelapan
ini
Aku dahagakan cahaya Ilahi
Bebaskanlah kau..
Bebaskanlah kau dari penjara ini
Aku rindukan petunjuk Nabi
Keluarkanlah aku…bebaskanlah
aku..jangan biarkan aku begini selamnya…
(rintihan sekeping hati didalam
jasad manusia yang hanya pinjaman dari Ilahi)
Wahai manusia..dengarkanlah
rintihan hatimu ini yang sedang menderita kerana dosa yang engkau sendiri cipta
Engkau membiarkan nafsumu bergembira
sedangkan hatimu..imanmu sedang merana
sedarlah..hatimu sedang merayu
dan merintih..
Keluarkanlah hatimu dari terus
tersesat didalam kegelapan
Bebaskanlah hatimu dari maksiat
yang membelenggu dirimu
“Sungguh beruntung orang yang
menyucikannya (jiwa) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” [Asy-Syams : 9-10]
“Dan bersegeralah mencari
keampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-rang yang bertaqwa [Ali-Imran : 133 ]
Selama ini, kita hanya mengenal kisah Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung Fu dalam filem Once Upon A Time In China. Dalam filem itu, karakter kisah Wong Fei Hung dimainkan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun, siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?
Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli perubatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah China. Wong Fei Hung di lahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama arab, Fais. Sementara nama Hung juga merupakan dialek Canton untuk menyebut nama arab, Hussein. Jadi, bila dibahasa arab kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong. Ayahnya Wong Kay Ying adalah seorang ulama, dan tabib ahli ilmu perubatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (Wu Shu/Kung Fu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengubatan bernama Po Chi Lam di Canton, ibukota Guandong. Wong Kay Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu Wu Shu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu bela diri Wong Kay Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini dikemudian hari diwariskan kepada Wong Fei Hung.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta rawatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya perubatan. Walau begitu, keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa mempedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih. Secara rahsia, keluarga Wong terlibat aktif gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’ing yang korup dan penindas. Dinasti Ch’ing merupakan dinasti yang merubuhkan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan dikenal sebagai satu-satunya dinasti kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak memeluk agama Islam.Wong Fei Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah Choi inilah yang mengajarkannya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris.
Setelah berguru pada Luk Ah Choi, Wong Fei Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli perubatan dan ahli bela diri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkan menjadi lebih maju. Kemampuan bela dirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien, yang dinamakan jurus Cakaran Macan dan jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil 'mengajar' lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya kerana ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei Hung tiga kali menikah kerana isteri-isterinya meninggal dalam usia pendek. Setelah isteri ke-3 nya wafat, Wong Fei Hung memutuskan untuk hidup sendirian sampai ia kemudian bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang juga ahli bela diri. Mok Gwai Lan kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.
Pada tahun 1924 Wong Fei Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustadh’afiin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapa pun orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang ia miliki. Wong Fei Hung meninggal dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati syahid. Semoga semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Ameen.
Aku melihat diri zahirku..aku merenung hatiku…adakah sama???
Sesungguhnya tidak..sama sekali tidak…bahkan ia amat berbeza..amat jauh berbeza
Ya Allah..betapa sombongnya aku terhadap Mu..biarpun zahirku Engkau ciptakan begitu indah
Namun hati ku tidak seindah zahirku..sedangkan hati ku ini lah yang menjadi nilaian Mu,bukannya zahir ku..
Ya Allah..sungguh jahat diriku ini..adakah layak diriku bergelar hambaMu..sedangkan nilaian Mu langsung tidak ku endah
Aku lebih suka membersihkan segala kekotoran di zahirku,agar aku mendapat pandangan dunia..
Aku membersihkan diriku dari sifat lemah,agar manusia memandang ku hebat..sehebat seorang mujahid,sedangkan manusia itu sememangnya bersifat lemah
Aku membersihkan diriku dari sifat jahil agar manusia memandangkan sebagai seorang yang bijak,bijak laksana seorang alim,sedangkan segala ilmu datangnya dari Mu
Aku membersihkan diriku dari dipandang hodoh,sedangkan bila-bila waktu Engkau boleh merampas segalanya
Banyak..sungguh banyak..aku membersikan diriku dari segala sifat lemah agar manusia memujaku,memuji ku…walaupun pandangan manusia itu belum tentu akan ku genggami
Bagaimana hati ku..bagaimana jiwa ku,bagai mana nurani ku…
Adakah aku hanya perlu membiarkan ia terus dikotori..terus dinodai??
Ya Allah…aku mengapa aku sibuk membersihkan zahir ku ,padahal aku tidak membersihkan akhlakku dari sifat mazmumah.
.aku tidak membersihkan ibadat ku dari mensyirikkanMu
,aku tidak membersihkan diriku dari kotoran penyakit hati,
aku tidak membersihkan jiwaku dari sifat takabbur,tidak mensyukuri nikmatMu.
dan mengapa aku tidak membersihkan diriku dari terus dibelenggu dosa..dosa yang sentiasa mengalir memenuhi ruang kamar hati ku.
Kerana jiwaku tidak mencintaiMu sepenuh hati,biarpun bibir menafikannya,aku lebih mencintai dunia dari mencintai akhiratMu,aku lebih mencintai manusia,aku sering memikirkan tentang dunia dan manusia dari mengingatiMu.
Aku menjadikan nafsu sebagai Tuhanku dan aku menjadikan dunia sebagai syurgaku
“Mungkin” manusia memandangku..namun tidak sama sekali Engkau akan memandangku..bagaimanakan keadaan ku bila akan akan mengadapMu nanti…sudah tentu Engkau langsung tidak akan megendahkan rayuan ku kerana sewaktu aku diberi masa dunia aku langsung tidak mengendahkan Mu..
Aku sentiasa membersihkan zahirku…dan aku membiarkan batinku terus dikotori..sampai bila kah???
Biarpun aku merasakan bahawa diri ku ini bersih,tetapi pada hakikatnya diriku sangatlah kotor~~~
Wahai manusia..sedarlah bahawa kamu milik Allah..mengapa kamu begitu tegar menentang Allah setiap hari..mengapa kamu begitu rela membiarkan dirimu melanggar perintah Allah dan tidak mengikut suruhaNya..beginikah yang kamu katakan bahawa kamu adalah hamba Allah sedangkan setiap detik kamu menetangnya dengan maksiat yang kamu lakukan..ingatlah Kubur setiap hari memanggilmu,malaikat izrail setiap masa menziarahimu,kamu pasti..kamu pasti akan menjadi sebahagian dari tanah..dan ketika itu,zahir yang sentiasa kamu yang bersihkan akan terus dimamah ulat,ular yang begitu bisa..ini bukan mainan..tetapi ini adalah kepastian..
Janganlah…janganlah lagi terus menerus menentang suruhan Allah walaupun sekecil pasir di gurun yang luas.kerana dosa balasanya api….bersihkan batinmu...untuk di persembahkan pada hari yang mana tiada pembelaan untuk manusia kecuali ketaatannya
“Pada hari tiada lagi manfaat harta dan anak-anak,kecuali mereka yang datang dengan hati yang sejahtera(bersih)”
Masih meneruskan perjalanan ke setiap pelusuk Bumi Anbia' dalam mencari permata yang tidak ternilai harganya di celah-celah debu Mesir... Aku manusia, pelakon cerita di pementasan alam ciptaan-Nya. Bukan sengaja melanggar arahan, kadang terlupa watak dan peranan. Aku manusia!!!